Posts

Pasar Ekonomi Kreatif Serpong Tangsel

Image
Di TangSel ada tempat yang Unik dan Tematik yang dibuka tanggal 14 Februari oleh Sultan Banten, Kepala Badan Ekonomi Kreatif dan Walikota, yaitu Pasar Ekonomi Kreatif di Akademi Bambu Nusantara Serpong. Ada Bamboo Market, Taman Bambu dan Workshop Pemanfaatan Bambu. Transaksi di Bamboo Marketnya menggunakan produk bambu seperti sedotan (setara dengan Rp. 5000,-), gantungan kunci (setara dengan Rp. 25.000,- ) dan tempat makan (setara dengan Rp. 50.000,-). Selain itu, pengunjung bisa ikut workshop membuat produk bambu seperti gelas, sedotan, bibit bambu dan lain-lain. Mereka beraktivitas di tengah Taman Bambu yang sejuk dan nyaman. Ada koleksi bambu Nusantara dan Dunia yang jarang ditemukan baik di Desa maupun di Kota. Ada Si Cantik NeoLoleba dari Papua, Si Ganteng Guadua dari Kolombia, Bambu Raksasa dari India, Bambu Naga dari Thailand, Bambu Buddha Blenduk, Bambu Batik dan lain-lain. Produk bambunya pun bisa buat kita kaget dan tercengang. Ada sepeda bambu, ada fossil kayu dari bambu,…

Cerita tentang Aliansi Bambu Hebat (A.Ba.H.)

Image
Sejak diumumkannya Tangerang Selatan (Tangsel) tahun 2019 akan menjadi Pusat Bambu Dunia pada saat workshop pertama kali di Akademi Bambu Nusantara (A.B.N.) Tangsel tahun 2016, Gerakan Revolusi Sebatang Bambu (G.R.S.B.) yang dilakukan sejak tahun 2012 bertambah masif dan terstruktur dengan baik. Puncaknya, di awal tahun 2019 ini, tepatnya tanggal 29 Januari di President Executive Lounge Menara Batavia Jakarta, dibentuklah Aliansi Bambu Hebat (A.Ba.H.) bersama Kesultanan Banten, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (B.N.P.B.) dan perguruan tinggi yang ada di Tangerang Raya, yaitu U.P.J., U.P.H. PRADITA INSTITUTE dan MATANA (akan menyusul Surya Institute, UMN, BINUS dan UNIV. DJUANDA) yang difasilitasi oleh P.T. Banten West Java, menejemennya K.E.K. Tanjung Lesung Pandeglang Banten.














Salah Satu Pusat Bambu Dunia itu adanya di Tangsel

Image
Ini adalah tempat hebat, tempat yang sangat minimal membebani lingkungan, Oase di tengah hutan beton megapolitannya Tangsel. Tidak hanya banyak oksigennya, tetapi ditempat inilah ide-ide cerdas dan innovatif teknologi bambu muncul termasuk Pasar Ekonomi Kreatif yang dimulai tahun 2016 yang lalu dan berhenti tahun 2017 karena terkena bencana angin puting beliung dan baru mulai lagi di tahun 2019 ini. Dulu tahun 2017, Kami pernah mencoba mengirim proposal bantuan untuk merevitalisasi tempat ini, sayang sekali tidak lolos verifikasi. Kalau dulu, PEKraf nya masih sendirian, sekarang sudah bersinergi dengan semua stakeholder. Terima kasih buat Dinas Koperasi UKM, Dinas Pariwisata, Dinas Perkimta, Perguruan Tinggi yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, pengusaha, Industri dan komunitas.
Di tempat ini, ada koleksi bambu Nusantara dan Dunia yang jarang sekali ditemui di Kota, seperti Betung, Hitam, Tutul, Budha (ditanam khusus oleh Bu Wali), Rambat, NeoLoleba, Madu, Dragon Bambu, Guadua, …

Huntara Bambu vs huntara pabrikasi

Image
Workshop penanganan bencana Tsunami Senyap Selat Sunda yang dilakukan IAI Banten sudah berjalan sejak tanggal 2 Januari 2019. Berbagai kendala di lapangan silih berganti datang dan pergi. Mulai dari pendanaan sampai dengan sumber daya manusia. 

Pendanaan yang digalang oleh IAI Banten melalui crowd funding kitabisacom dan rek Mandiri IAI Banten belum berhasil dan jauh dari memenuhi target. Untuk menutupi kekurangan dana operasional terpaksa harus merogoh kocek sendiri dan pinjam dari kas IAI Banten dan Dinas Perkimta Tangsel.
Tanggap Bencana yang dilakukan IAI Banten rupanya belum berhasil meyakinkan pihak Pemprov. Banten untuk menjadi partner dalam masa transisi. Padahal, secara keilmuwan dan profesi, IAI Banten sudah sangat siap dengan konsep Restorasi Kawasan, Hunian Sementara (Huntara) dan Hunian Tetap (Huntap). Salah satu buktinya adalah desain untuk Huntara dari IAI Banten yang memakai material alam seperti bambu tidak menjadi pilihan. Mereka lebih memilih menggunakan bahan-bahan p…

Museum Bantam

Image
Kalau dapat rizki, Saya akan bangun Museum Bantam di lahan peninggalan orang tua, yaitu di pesisir Teluk Banten. Luasnya sekitar 4 ha di kawasan Pelabuhan Karangantu atau Pantai Gopek nama milenialnya.

Di Teluk Banten ini, pernah mendarat seorang Cornelis De Houtman bersama pasukannya dengan armada 4 kapal dagang Belanda di bawah bendera Vereenigde Oostindische Compagnie (V.O.C.). Tepatnya tanggal 27 Juni 1596 yang merupakan pembuka jalan penjajahan Belanda di Nusantara.

Bentuk Museum Bantam nya, merupakan replika dari salah satu kapal V.O.C. Materialnya menggunakan Strand Woven Bamboo (S.W.B.) dengan dimensi 159.6 m x 27 m x 9 m. Terdiri dari 3 lantai dengan lantai pertama untuk Masjid dan kompleks Kesultanan Banten, lantai kedua dan ketiga untuk diorama suasana Kesultanan Banten pada saat Cornelis De Houtman berlabuh di Banten dan lantai geladag adalah ruang publik untuk menikmati suasana pesisir Teluk Banten.
Biaya yang dibutuhkan untuk membangun Museum Bantam ini adalah sekitar 100 …